Showing posts with label Bisindo. Show all posts
Showing posts with label Bisindo. Show all posts

Tuesday, November 1, 2016

Akar Tuli on Brawijaya Expansion Event (Part 1)





Halo! Happy November everyone! Today, because our previous post is about simple past, the writer will write in English using simple past tense. Yeyyyyy *clapping* Every word written in V2 will be underlined. In this very special occasion, I am going to talk about Akar Tuli on Brawijaya Expansion Event. Excited, huh? ;)

_____________________________________________________________________

Brawijaya Expansion Event held on October, 29th, to be exact, it was saturday. In this event, Brawijaya gathered all of Malang community and Akar Tuli was invited. There were bunch of them:



I came around 1 PM and apparently Mufti and Ikbar were already there in Akar Tuli stand. They had prepared everything when I arrived,

Few hours later, suddenly the rain felt. :( and our stand was flooded. The committee of Brawijaya Expansion tried to sweep the water, but of course it did not solve the problem. 

Eventually, the committee allowed us to move our stand. Yey! They also helped us re-prepared everything.


the new stand

At 4 pm, the rain stopped, the show begun, and visitor started to come. At first, they came closer slowly to our x-banner, which is consist of Indonesia sign language (BISINDO/Bahasa Isyarat Indonesia). They looked shy. but eventually they were willing to learn sign language. 



Our first visitor were 2 girls from somewhere, I forgot where they were. Uut and Ikbar, and I as interpreter, taught how to sign for them.



After that, there were bunch of Maba from Filkom (Faculty of Computer Science). They were funny, after they learned about sign, they asked us to teach them how to say love to someone use sign language. :D


Meanwhile, Mas Mufti also busy with their clients.

At that time, there were only 2 interpreters, that is, Mas Mufti and I. I was exausted, but I am proud of Akar Tuli, and I was very happy that a lot of people learned sign language. :))


the squad

_________________________________________________________________________


written by: gadis

Wednesday, October 19, 2016

Kode Etik Volunteer


Hai, readers! Assalamu’alaikum Wr Wb.
Saya Octaviany Wulansari. Saya dipanggil Ovik dan bertugas sebagai koodintor volunteer Akar Tuli. Saya bertanggungjawab mengurus volunteer-volunteer Akar Tuli sebagai juru Bahasa Isyarat. Selain itu, ketua Angelius Wahyu Utomo, Uut, dan wakil ketua Yoga Dirgantara meminta saya menjadi koodintor dikarenakan pengalaman banyak, sering mengikuti kegiatan Tuli seperti Gerkatin Solo sejak hampir 10 tahun lagi. Sekarang saya masih mahasiswi Universitas Brawijaya, semester 7 dan berkesempatan kembali aktif di kegiatan Akar Tuli karena pada semester 6 kemarin saya sempat tidak aktif karena sibuk kuliah. 
Saya juga berniat membuat rencana tentang kode etik khusus volunteer Akar Tuli. Sebelumnya, saya ijin pada mas Phiter dari JBI (Juru Bahasa Isyarat) Jakarta dan akan memberi undangan kepada Mas Hasby ‘Bias’ Assafil, yang dipanggil Bias, yang lahir di Solo dari DVO (Deaf Volunteering Organization). Saya memilih Mas Bias sebagai pemateri karena dia berasal dari DVO Solo dan JBI, sehingga mempunya pengalaman yang penuh sejak 2012 sampai sekarang. Beliau pun mempunyai kegiatan tugas JBI kemana-mana. 
Akhirnya, acara kode etik terlaksana pada tanggal 15 Oktober 2016 pukul 13.00-16.00 sore selesai di Food Factory Malang. Alhamdulillah, volunteer seru dan aktif bertanya Mas Bias. Beliau juga senang karena volunteer merespon dengan baik dan sadar akan pentingnya kode etik juru Bahasa Isyarat.


Tuesday, October 18, 2016

Komunitas ini Aksi Arek Tuli Malang (AKAR TULI)




Komunitas yang dikenal dengan nama AKAR TULI ini terdiri dari 20-60 orang, yang terdiri dari Tuli dan volunteer. Jefri, sebagai bendahara AKAR TULI yang sekarang berkuliah di Vokasi UB, berkata bahwa dia dan teman-teman Akar Tuli telah membentuk komunitas ini sejak tahun 2016. Ovik, seorang mahasiswa UB jurusan psikologi yang juga seorang Tuli berkata bahwa komunitas ini terbentuk karena pada awalnya banyak teman Tuli yang berkumpul untuk Pelatihan Bahasa Isyarat dengan volunteer, dan akhirnya berfikiran untuk membentuk suatu komunitas.

Untuk bergabung dengan komunitas ini tidak dibutuhkan syarat yang begitu rumit, hanya dengan memiliki niat untuk belajar Bahasa Isyarat dan mau rajin latihan sudah bisa untuk mengikuti komunitas Akar Tuli, kata Ovik lagi. Anggota Akar Tuli tidak hanya Tuli saja, tetapi orang hearing juga bisa bergabung.


Tujuan dari bentuknya komunitas ini adalah agar masyarakat mau mengakui keberadaan Bahasa Isyarat. Selain itu, dengan adanya volunteer sebagai interpreter, memudahkan bagi Tuli untuk berkomunikasi dengan hearing. Volunteer juga dapat mengasah kemampuan berbahasa isyaratnya disini.  

AKAR TULI mempunyai kegiatan rutin setiap hari minggu di CFD Kota Malang untuk mengajarkan Bahasa Isyarat ke khalayak umum. Berikut adalah dokumentasi acara di CFD yang diadakan Minggu, 16 Oktober 2016. 

(dari kiri) ada adit, retno, faiq, dan sefa yang sedang mengajari bahasa isyarat

yang paling kanan ada Kak Ai, kira-kira itu isyarat apa ya yang diperagakan kak Ai? :)

yang berbaju merah itu namanya Kak Alif, mahasiswa UM 

waktu pelatihan bahasa isyarat santai kok suasananya, smabil telfonan pun boleh :D


Ini namanya Kak Sry, yang lagi promoin Bahasa Isyarat


ini huruf H ya :)






 


suasana pagi-pagi di CFD

Ini huruf P, ya kak

Kalau ini namanya Kak Rima



Lagi meragain huruf G




Yang sebelah kiri ini namanya Kak Uut



Keluarga besar AKARTULI. Jangan lupa datang ke CFD minggu depan ya! :)

________________________________________________________________________________

written by : Jefri
edited by : Gadis
documented by : AI

Wednesday, October 5, 2016

Hari Tuli Internasional



Hari Minggu lalu, tepatnya 2 Oktober, Akar Tuli dan GERKATIN memperingati hari tuli internasional. Menurut seorang volunteer Akar tuli yang bernama Rofi,  acaranya sery. Di acara ini kita bisa mengenal banyak teman-teman deaf dari seluruh Jawa Timur dan bisa mensosialisaikan juga tentang hak-hak Tuli, bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama. Tadi sempat juga ada ibu-ibu yang tanya tentang Tuli, komunitas Tuli di Malang, dan ibu itu juga baru tau kalau ternyata ada sekolah inklusi termasuk kampus inklusi juga. Ibu tersebut kaget kalau di Universitas Brawijaya memberikan kesempatan bagi difabel untuk kuliah dan mendampingi mereka ketika kuliah. Dari situ beliaunya jadi tau bahwa tidak ada diskriminasi dan perbedaan antara hearing dan Tuli, semua punya peluang yang sama hanya kita saja yang harus membantu dan memberikan mereka kesempatan.

Sebagai orang hearing, Rofi merasa senang sekali,  bisa merasa jadi bagian dari semangat mereka, bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka juga, apalagi tadi karya karya mereka bagus sekali. "Aku ngerasa kalah sama mereka hehehe." kata Rofi. 

Monday, October 3, 2016

Talkshow Keluarga Besar Akar Tuli bersama Andalus 91.1 FM

Apa itu Akar Tuli?
Kenapa disebut Akar Tuli?

Kedua pertanyaan tersebut mengawali sesi wawancara dari radio Andalus 91.1 FM pada hari Sabtu, 24 September 2016 tepat pada pukul 15.00 WIB. Rieka Aprilia Hermansyah (bendahara akar tuli) dan Yoga Dirgantara (wakil ketua akar tuli) sebagai perwakilan dari Akar Tuli didampingi 2 orang Volunteer, Rima dan Gadis sebagai Juru Bahasa Isyarat. Aksi Arek Tuli Malang yang disingkat “Akar Tuli” secara resmi berdiri tanggal 13 September 2013. Akan tetapi proses diskusi Arek-Arek Tuli membentuk komunitas Akar Tuli sejak tahun 2012. Penggagas berdirinya Akar Tuli adalah Fikri mahasiswa Tuli jurusan Seni Rupa di UB.

Beragam kegiatan di Komunitas Akar Tuli diantaranya adalah pelatihan bahasa isyarat pada masyarakat umum, salah satunya di CFD. Memberikan informasi mengenai budaya Tuli kepada masyarakat. Selain itu Akar Tuli juga sering diundang perform di organisasi lain.

Sebagian masyarakat umum masih sulit membedakan kata “Tuli” dengan “Tunarungu”. Padahal keduanya memiliki pemahaman yang berbeda. Tunarungu berarti kerusakan atau keadaan sakit, sedangkan kata rungu berarti pendengaran. Orang Tuli itu bukan orang sakit, karena keadaan Tuli bukan sebuah penyakit. Melainkan Tuli adalah sebuah identitas cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Sebagai individu ataupun sebuah komunitas orang Tuli sama dengan orang dengar/hearing, hanya cara berkomunikasinya yang berbeda.